Quality Control

QUALITY CONTROL BETON

Written by Feriyanto

QUALITY CONTROL BETON

 Tujuan

Untuk menjamin tercapainya kualitas pekerjaan beton yang memenuhi syarat, maka quality control melalui pengujian-pengujian harus dijadikan bagian yang tak terpisahkan dari proses/tahapan pekerjaan pembetonan. Pada umumnya, spesifikasi untuk beton dan material penyusunnya, menentukan detail syarat minimal yang dapat diterima. Persyaratan tersebut menyangkut :

  • Karakteristik campuran beton seperti diameter maksimum agregat dan minimum

cement content

  • Karakteristik dari semen, air, agregat dan bahan tambah
  • Karakteristik dari beton segar dan beton dalam proses pengerasan seperti

temperatur, slump, kadar udara atau kuat tekan.

 

Semen, diuji kelulusannya terhadap standar yang berlaku serta untuk menghindarkan terjadinya karakter abnormal seperti kekakuan segera, perlambatan pengikatan, atau kuat tekan yang lemah pada beton.

 

Agregat diuji dengan 2 tujuan utama yaitu :

  1. Menentukan kesesuaian dari agregat tersebut untuk digunakan pada beton. Tes

           tersebut meliputi: abrasi, soundness, berat jenis, analisa kimia mineral.

  1. Menjamin keseragaman mutu agregat selama proses pekerjaan pembetonan, tes

           tersebut meliputi: gradasi, kepipihan dan kepanjangan, kadar lumpur

 

Beton diuji dengan 2 tujuan utama:

  1. Diuji untuk mengevaluasi performance dari material penyusun beton. Tes tersebut

            meliputi: slump, kadar udara dan berat jenis.

  1. Diuji untuk mengevaluasi performance pelaksanaan pekerjaan di lapangan seperti

            slump dan kuat tekan serta deviasi standar.

 

  1. Pengujian agregat
  2. 1. Sampling agregat

Dilaksanakan untuk mengambil sample agregat dari suatu deposit material untuk

dilakukan pengujian lanjutan. Sampel agregat harus dapat mencerminkan/mewakili

kondisi deposit agregat secara keseluruhan. Metode yang biasa digunakan ada 2 yaitu

metode quartering dan alat spliter sampel.

 

  1. 2. Tes kadar organik

Kadar organik diuji pada agregat halus untuk menentukan jumlah bahan organik yang terkandung dalam agregat halus tersebut. Bahan organik berpengaruh terhadap kuat tekan dan durability dari beton yang dihasilkan. Di laboratorium, kadar organik diuji dengan membandingkan warna larutan sodium hydroxide dan pasir uji dengan warna standar.

 

  1. 3. Kadar Lumpur

Seperti kadar organik, kadar lumpur juga berpengaruh terhadap kuat tekan beton.

Kadar lumpur mempengaruhi lekatan antara mortar semen dengan agregat. Kadarlumpur adalah bahan yang lolos saringan diameter 0,075 mm. Di laboratorium diuji dengan cara mencuci agregat yang diuji kemudian membandingkan berat awal terhadap berat setelah dicuci.

 

  1. 4. Gradasi

Gradasi (susunan butiran) agregat berpengaruh terhadap proporsi campuran betondan workability. Di laboratorium gradasi diuji dengan cara melewatkan agregat uji melalui susunan ayakan dari diameter terbesar s/d diameter terkecil. Masing-masing proporsi persentase agregat tertahan, menunjukkan susunan butiran agregat tertentu. Hasil dari tes gradasi memungkinkan kita menentukan:

  • Apakah material tersebut memenuhi spec gradasi
  • Pencampuran beberapa jenis material
  • Variasi gradasi yang terjadi selama proses pembe
  1. 5. Kadar air agregat

Kadar air agregat di lapangan harus dapat diperkirakan sehingga dapat dilakukan

penyesuaian jumlah air per m3 campuran, mendekati rencana. Pengujian kadar air agregat yang akurat memakan waktu lama yaitu ± 12 jam. Sebab harus melalui proses

pengeringan dengan oven di laboratorium. Pada batching plant modern, kadar air agregat sudah bisa dideteksi dengan memasang detector kelembaban pada material yang hasilnya dapat dibaca langsung di monitor.

 

Diluar pengujian-pengujian di atas tentu saja untuk menghasilkan mutu beton yang baik, masih terdapat sejumlah pengujian tambahan dengan tujuan-tujuan tertentu yaitu misalnya: abrasi, soundness, flakiness dan elongation, kandungan mineral, dll.

 

  1. Pengujian beton segar

Pengujian beton segar mencakup 2 jenis pengujian pokok yaitu: konsistensi dan kadar udara.

3.1. Konsistensi

Konsistensi beton diupayakan dengan nilai slump, semakin tinggi nilai slump, semakin tinggi konsistensi betonnya. Untuk mutu beton yang sama, beton dengan konsistensi tinggi memerlukan jumlah semen/m3 lebih banyak untuk menjaga w/c atau lebih dikenal dengan f.a.s (dalam hal ini langsung menyangkut kuat tekan) tetap. Masih banyak metode lain untuk penentuan konsistensi beton selain dengan alat kerucut Abram’s diantaranya: k slump tester, compaction factor, V-B time, flow tabletest, dll. Tetapi di Indonesia yang umum digunakan adalah alat hammer Abram’s.

 

3.2. Kadar udara

Kadar udara dalam beton diperlukan untuk pekerjaan-pekerjaan khusus misalnya

pengecoran menggunakan concrete pump. Udara yang ada di dalam beton akan berfungsi sebagai pelumas saat material beton melalui pipa saat pengecoran. Kadar udara normal dalam beton berkisar antara ½-3% sementara untuk keperluan di atas, kadar udara bisa dinaikkan menjadi s/d 4–5%, dengan menambahkan bahan tambah tertentu. Cara mengukur kadar udara di laboratorium, meliputi 3 metode yaitu :

  • metode gravitasi
  • metode volumetric
  • metode tekanan

Metode tekanan banyak digunakan mengingat kemudahan prosedur dan keakuratan hasil.

  1. Pengujian beton keras

4.1. Cara merusak (destructive test)

Cara ini biasanya dilakukan untuk mengetahui secara langsung kapasitas sebenarnya (kapasitas runtuh dari beton). Destructive test dilakukan biasanya pada benda uji yangdibuat saat beton masih plastis berbentuk kubus bersisi 15 cm atau silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm., atau pada benda uji hasil core drill. Benda uji tersebut diletakkan di bawah mesin tekan dan ditekan dengan kecepatan 2-3 kg/cm2/detik sampai hancur. Nilai tegangan hancurnya itulah yang digunakan sebagai nilai runtuh dari beton, pada umur saat pengetesan dilakukan. Nilai runtuh di atas disebut kuat tekan beton, dipakai sebagai nilai acuan perencanaan struktur beton dimana nilai karakter beton yang lain, dapat dikorelasikan terhadap nilai kuat tekan betonnya.

 

4.2. Cara tidak merusak (non destructive test)

, atau apabila       Non destructive test baru dilakukan pada struktur beton apabila nilai kuat tekan beton yang didapat melalui cara destructive test tidak memenuhi syarat data nilai kuat tekan sebelumnya tidak ada. Non destructive test dilakukan dengan harapan akan didapat prediksi kuat tekan betonnya untuk menghitung kekuatan strukturnya tanpa merusak strukturnya. Metode yang biasa dilakukan adalah dengan:

 

  • Rebound hammer test

Rebound hammer test dapat dilakukan pada hampir semua jenis konstruksi dan hampir berbagai posisi pengujian. Rebound hammer test mengandalkan daya pegas saat ditembakkan pada permukaan beton untuk memprediksi kuat tekan betonnya. Keakuratan nilai pembacaan sangat tergantung kepada kondisi permukaan beton yang akan ditest dan kondisi kekuatan pegas. Untuk itu disyaratkan permukaan beton yang akan ditest harus dihaluskan dulu dengan gerinda. Sementara kekuatan pegas harus selalu dikontrol dengan melakukan kalibrasi secara berkala.

 

Uji beban langsung biasanya dilakukan bila baik test tekan maupun hammer testtidak

memenuhi syarat. Prosedur pengujian biasanya menerapkan beban rencana pada konstruksi bersangkutan, kemudian diukur perilaku struktur yang terjadi saat menahan beban. Perilaku dimaksud adalah besarnya lendutan, adanya keretakan, dll. Hasil pengamatan dievaluasi untuk kemudian diambil penanganan selanjutnya.

 

  • Pulse velocity crack recorder

Pulse velocity crack recorder, termasuk alat jenis baru dan modern. Alat ini menggunakan ultrasonic sebagai media pengukur. Ultrasonic dipancarkan dari satu sisi dan diterima di sisi lain. Dengan berbagai variasi lokasi dan pendekatan bisa didapatkan korelasi antara kecepatan ultrasonic tersebut melalui media beton, dengan karakter beton yang dilewatinya. Karakter beton yg dapat diketahui adalah :

  1. Homogenitas media, untuk menentukan adanya pori atau retakan
  2. Density media
  3. Kuat tekan media.

 

  1. Evaluasi mutu beton

Evaluasi mutu beton, dimaksudkan untuk mengontrol kekuatan beton yang dihasil kan serta variabilitas mutu yang terjadi dari suatu produksi beton dalam periode tertentu. 1Yang dimaksud variable atau deviasi adalah suatu besaran yang menyatakan rata-rata penyimpangan mutu beton dari sejumlah benda uji, dibandingkan dengan rata-rata mutu beton yang bisa dicapai. Tingkat variabilitas (deviasi) mutu beton, dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

  • Karakteristik dari masing-masing bahan dasar
  • Keadaan praktek yang dilakukan dalam proporsi campuran, peralatan pengadukan,pengangkutan, penuangan dan perawatan beton
  • Pembuatan, pengujian dan perlakuan (treatment) benda uji

Variasi yang berlebihan dari kuat tekan beton menunjukkan kurangnya tingkat kontrol

kualitas mutu material maupun segi pelaksanaan dan pengujian/evaluasi.

 

5.1. Benda uji

Benda uji yang disyaratkan menurut PB’89 adalah benda uji silinder dengan ukuran 15 x 30 cm, sedangkan pemakaian benda uji kubus ukuran 15x15x15 cm masih diperkenankan, dengan korelasi tegangan yang dihasilkan adalah :

f’c = { 0,76 + 0,2 log (fck/150)} fck

Dimana :

f’c = kuat tekan beton yang disyaratkan, Mpa

fck = kuat tekan beton, Mpa, didapat dari benda uji kubus dengan sisi 15 cm

 

Misalnya :

Untuk benda uji kubus dengan mutu 500 kg/cm2, akan sama dengan mutu 432 kg/cm2

(benda uji silinder).

 

5.2. Sistem pengetesan

Hal-hal yang harus diperhatikan adalah:

  • Mesin uji harus cukup kuat dan dikalibrasi
  • Benda uji harus betul-betul presisi. Dalam hal ini, cetakan benda uji harus betulbetulpresisi, demikian pula saat pembuatan benda ujinya.
  • Hingga Pengujian, spesimen harus tetap dirawat dengan cara merendamnya didalam bak berisi air.
  • Diuji hingga spesimen hancur dan diamati tipe keruntuhan.

 

5.3. Perhitungan mutu beton

Kuat tekan karakteristik pelaksanaan perhitungan dengan rumus :

Xo = X – ks

Xo = kuat tekan karakteristik

X = kuat tekan rata-rata dari sejumlah benda uji

k = faktor kemungkinan (probability)

N

s = deviasi standard        

S =    S ( x – x )2

          1    ( N – 1 )

N = Jumlah benda uji

 

Tingkat kekuatan dari suatu mutu beton dikatakan dicapai dengan memuaskan bila kedua persyaratan berikut dipenuhi :

  • Jika nila kuat tekan karakteristik sesuai dengan yang direncanakan
  • Nilai rata-rata dari semua pasangan hasil uji yang masing-masing terdiri dari empathasil uji kuat tekan tidak kurang dari (f’c + 0,82 s)
  • Tidak satupun dari hasil uji tekan (rata-rata dari dua silinder) mempunyai nilai

            dibawah 0,85f’c

Copyright © 2016 Thetaindomarga   – Paving Block | U-Ditch | Box Culvert | Kanstin

 

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.